Foto ilustrasi
DOBO, CakrawalaMalut.com— Dugaan tindak penganiayaan terhadap seorang anggota TNI kembali mencuat dan menimbulkan kekhawatiran publik. Seorang prajurit berinisial Serda Aan, yang merupakan anggota TNI Angkatan tahun 2025 asal Ternate, Provinsi Maluku Utara, dilaporkan menjadi korban kekerasan oleh sejumlah rekan satu angkatannya di satuan Yonif TP 912 yang bertugas di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.
Peristiwa tersebut diduga terjadi pada Jumat, 17 April 2025, sekitar pukul 08.00 WIT. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban pertama kali mengalami tindakan penganiayaan oleh sekitar lima orang rekannya. Tidak berhenti di situ, pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIT, korban kembali diduga dikeroyok oleh kelompok yang sama.
Dalam insiden tersebut, Serda Aan dilaporkan mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan, termasuk menggunakan kabel yang diarahkan ke bagian perut hingga menyebabkan memar dan pembengkakan, dan wajah me bengkak bibir juga pecah, Meski mengalami luka, korban disebut tetap menjalankan tugas seperti biasa.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam dari pihak keluarga. Orang tua korban menilai tindakan tersebut sudah melampaui batas dan tidak dapat ditoleransi, mengingat kejadian ini berlangsung bukan dalam konteks pendidikan atau pelatihan, melainkan di lingkungan penugasan aktif.
“Kami sangat khawatir dengan keselamatan anak kami. Ini bukan lagi pembinaan, tetapi sudah mengarah pada penganiayaan dan penyiksaan. Apalagi sebelumnya pernah ada kasus anggota meninggal akibat kekerasan serupa,” ungkap pihak keluarga dengan nada tegas.
Lebih lanjut, keluarga juga mengungkap adanya dugaan perlakuan tidak manusiawi yang kerap terjadi di lingkungan tersebut. Disebutkan, para anggota kerap dipaksa menjalani aktivitas fisik berlebihan setiap malam, seperti jungkir balik setelah makan, bahkan hingga dipaksa memasukkan makanan melalui mulut dan hidung dalam kondisi tidak wajar.
Situasi ini dinilai sangat memprihatinkan dan berpotensi menimbulkan dampak serius, baik secara fisik maupun psikologis bagi para prajurit. Keluarga korban pun mendesak pimpinan tertinggi TNI, khususnya Panglima TNI dan jajaran TNI Angkatan Darat, untuk segera turun tangan dan mengusut tuntas kasus ini.
“Kami meminta Panglima TNI agar segera memproses persoalan ini secara tegas dan transparan. Jangan sampai praktik kekerasan seperti ini terus terjadi dan memakan korban berikutnya,” tegas keluarga korban.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak satuan terkait dugaan insiden tersebut. Namun publik berharap agar institusi TNI dapat segera melakukan investigasi menyeluruh dan mengambil langkah tegas terhadap oknum-oknum yang terbukti melakukan pelanggaran.
Kasus ini kembali menjadi sorotan terkait pentingnya penegakan disiplin yang humanis di lingkungan militer, serta perlindungan terhadap setiap prajurit dari tindakan kekerasan yang tidak dibenarkan dalam bentuk apa pun. (Red)


