Halsel, Cakrawalamalut.com– Ketidakhadiran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Selatan dalam kegiatan dialog memperingati Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan Laskar Pemuda Makayoa, Rabu (28/10/2026), menuai kritik tajam dari kalangan pemuda.
Ketua Laskar Pemuda Makayoa menilai absennya para wakil rakyat dan unsur pemerintah daerah dalam forum dialog tersebut mencerminkan lemahnya perhatian terhadap aspirasi generasi muda. Padahal, momentum Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi ruang strategis untuk membangun komunikasi, bertukar gagasan, serta merumuskan langkah nyata bagi kemajuan daerah.
Menurutnya, kegiatan dialog tersebut bukan sekadar agenda seremonial untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, melainkan wadah bagi pemuda untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan masukan terhadap berbagai persoalan pembangunan di Kabupaten Halmahera Selatan.
Ketidakhadiran DPRD dan Pemda Halsel pun memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana komitmen para pemangku kebijakan dalam membuka ruang komunikasi dengan generasi muda. Sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat, kehadiran mereka dinilai penting untuk mendengar langsung aspirasi pemuda.
Ketua Laskar Pemuda Makayoa menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap tersebut. Ia menilai, apabila undangan untuk berdialog tidak direspons dengan kehadiran, maka wajar jika muncul penilaian kritis dari kalangan pemuda terhadap keseriusan pemerintah dan DPRD dalam membangun komunikasi publik.
“Momentum Sumpah Pemuda seharusnya menjadi kesempatan bagi DPRD dan pemerintah daerah untuk duduk bersama pemuda, mendengarkan aspirasi, serta membahas persoalan daerah. Kalau forum dialog seperti ini saja tidak dihadiri, tentu kami mempertanyakan keseriusan dan kepedulian mereka terhadap suara pemuda,” ujarnya deng nada kesal
Ia pun melontarkan kritik keras terhadap sikap DPRD dan Pemda Halsel yang dinilai tidak menunjukkan keseriusan dalam merespons ruang dialog yang telah disiapkan oleh Laskar Pemuda Makayoa.
“Kalau undangan dialog dari pemuda saja tidak dihadiri, lalu bagaimana kami bisa menilai keseriusan DPRD dan pemerintah daerah dalam mendengar aspirasi generasi muda? Jangan sampai pemuda hanya dibutuhkan saat momentum tertentu, tetapi ketika ingin berdialog, justru tidak mendapat perhatian,” tegasnya. *(J/Red).


