Halsel, Cakrawalamalut .com – Ribuan pelaku tambang tergabung dalam Komunitas Tambang Rakyat (KATAR) yang terdiri dari desa Manataha dan desa Alam kananga Kecamatan Obi Barat, desa Anggai Kecamatan Obi serta desa Kusubibi Kecamatan Bacan Barat Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) provinsi Maluku Utara, mereka mengutuk keras terhadap pihak-pihak yang ingin dan menekan kepada petugas yang berwewenang untuk memproses dan menutup kegiatan tambang rakyat.
Pernyataan ribuan pelaku penambang tersebut, menyusul ramainya oleh sejumlah kelompok yang mengatasnamakan penyelamat rakyat Halsel beserta sejumlah media, mendesak kepada kepolisian untuk memproses para pengusaha tambang rakyat dan menutup kegiatan tambang rakyat.
Pelaku penambang tambang rakyat 4 desa tersebut dengan melalui para pengusaha tambang, telah mengurus izin pertambangan yang didukung dan dilakukan oleh pemerintah Kabupaten beserta pemerintah Provinsi Maluku Utara yang saat ini telah lengkap persyaratan untuk diterbitkan izin dari pemerintah pusat.
Salah satu penambang yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, kami penambang dan pengusaha tambang adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Sebuah tambang rakyat tidak ada pengusaha tambang, maka tambang rakyat tidak akan jalan, karna seluruh keuangan tambang rakyat berada pada pengusaha, begitu pula sebaliknya, jika tidak ada penambang, maka kegiatan tambang rakyat tidak akan jalan, karna pengusaha sangat membutuhkan tenaga kerja para penambang, katanya kepada media ini, Rabu (07/10/2026).
Untuk itu, kami penambang dari 4 desa tersebut akan turun ke jalan dan mendampingi para pengusaha tambang, karna bila mereka diproses, sama halnya menghalangi untuk mengurus izin tambang selanjutnya yang tinggal selangkah lagi dalam prosesnya, tandas penambang tersebut.
Mengurus proses izin tambang rakyat tidak semudah membalikkan telapak tangan dan memerlukan anggaran yang sangat besar, anggaran itu hanya ada pada para pengusaha tambang.
Penambang dan pengusaha tambang bertekad dan bersatu untuk menyelamatkan tambang rakyat, karna hanya satu-satunya pekerjaan yang kami harapkan pada saat musim kemarau panjang disertai dengan krisis ekonomi saat ini.
Kepada para pihak kami harapkan, jangan pikir diri sendiri, tapi juga pikir ekonomi kami rakyat kecil ini, pekerjaan ini harapan kami terakhir untuk mempertahankan hidup, harap ribuan pelaku tambang rakyat.
Kami warga negara Indonesia yang berdiri dan tidur diatas emas, namun kami dipersulit dan dihalang-halangi untuk menikmati hasil bumi tersebut oleh negara kami sendiri, tidak seperti negara asing yang dengan mudah mengambil dan menikmati hasil bumi di negara kami.
Kami berharap pula, ada kebijakan yang berpihak kepada kami pelaku tambang rakyat, untuk menyelamatkan hidup kami pada kondisi saat ini.
Keluhan dan suara hati ini disampaikan oleh ribuan komunitas tambang rakyat Halsel.* (Redaksi)


