CakrawalaMalut.com – Panggung politik Indonesia baru saja menyaksikan transisi besar, namun bagi Dr. Hj. Ida Fauziyah, M.Si., perpindahan tugas adalah bentuk pengabdian yang tanpa henti. Setelah lima tahun penuh dinamika menjaga “gawang” ketenagakerjaan Indonesia di kabinet Presiden Joko Widodo, sosok srikandi asal Mojokerto ini kini resmi kembali ke “rumah” lamanya di Senayan sebagai Anggota DPR-RI periode 2024–2029.
Perjalanan Ida Fauziyah bukan sekadar tentang jabatan, melainkan potret ketangguhan seorang aktivis perempuan yang tumbuh dari rahim organisasi Nahdlatul Ulama (NU) hingga menjadi pembuat kebijakan di level tertinggi negara.
Ditempa dari Garis Bawah: Jejak Aktivis dan Santriwati
Lahir pada 17 Juli 1969, karakter kepemimpinan Ida tidak muncul secara instan. Ia adalah produk asli aktivisme pergerakan. Sejak masa kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, ia telah mewakafkan waktunya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur.
Dedikasinya di organisasi sayap perempuan NU membawanya mencapai posisi puncak sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU (2010–2015). Di sinilah Ida mengasah empati sosialnya—memperjuangkan hak kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan perlindungan anak—yang kelak menjadi napas utama dalam setiap diskusinya dengan serikat buruh maupun pengusaha.
Dua Dekade di Legislatif dan Keberanian Uji Nyali
Sebelum menjabat Menteri, Ida adalah penghuni setia Senayan selama hampir 20 tahun sejak 1999. Sebagai kader inti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ia pernah memimpin Komisi VIII yang membidangi urusan agama dan sosial.
Keberanian politiknya diuji secara nyata pada tahun 2018. Ia rela meninggalkan kursi nyaman di DPR-RI untuk maju dalam kontestasi Pilgub Jawa Tengah sebagai calon Wakil Gubernur. Meski hasil akhir belum memihak, langkah “uji nyali” tersebut justru mengukuhkan posisinya sebagai salah satu tokoh perempuan nasional yang paling diperhitungkan.
Warisan 5 Tahun di Kemenaker: Navigasi di Tengah Pandemi
Dilantik sebagai Menteri Ketenagakerjaan pada Oktober 2019, Ida langsung dihadapkan pada ujian terberat dalam sejarah ketenagakerjaan modern: Pandemi COVID-19. Di bawah arahannya, Kementerian Ketenagakerjaan bertransformasi menjadi bantalan sosial bagi jutaan pekerja yang terdampak PHK.
Ia dikenal gigih mendorong program Link and Match untuk menyelaraskan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri, serta melakukan revitalisasi besar-besaran pada Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh Indonesia. Baginya, tantangan masa depan bukan hanya soal ketersediaan lapangan kerja, melainkan kesiapan SDM Indonesia menghadapi era digitalisasi.
Babak Baru: Kembali Menjadi Suara Rakyat
Kini, setelah purna tugas dari kursi eksekutif, Ida Fauziyah tidak memilih untuk beristirahat. Melalui mandat yang diberikan rakyat pada Pemilu 2024, ia kembali melenggang ke DPR-RI. Transisi ini dipandang banyak pihak sebagai keuntungan bagi legislatif, mengingat Ida membawa pengalaman berharga dari sisi eksekutor pemerintah.
Kembalinya Ida ke Senayan membawa harapan baru bagi penguatan regulasi ketenagakerjaan yang lebih berkeadilan. Dengan latar belakang pendidikan Doktor Ilmu Pemerintahan dari Universitas Padjadjaran, ia memadukan intelektualitas akademis dengan kematangan pengalaman lapangan.
Inspirasi Srikandi Indonesia
Ida Fauziyah tetaplah sosok ibu yang hangat namun tegas dalam prinsip. Perjalanannya dari memimpin organisasi pelajar hingga mengurus jutaan tenaga kerja adalah pesan kuat bagi perempuan Indonesia: bahwa integritas, ketulusan dalam berorganisasi, dan keberanian mengambil risiko adalah kunci untuk membuka pintu pengabdian yang lebih luas bagi bangsa.
Sumber: Wikipedia
#Hj Hagia Sofia#


