Foto Mas Pardi adalah salah satu tokoh bahari paling penting dalam sejarah Indonesia,
CakrawalaMalut.Com – Mas Pardi adalah salah satu tokoh bahari paling penting dalam sejarah Indonesia, sosok yang layak disebut Bapak Ilmu Pelayaran Indonesia. Kiprahnya di dunia pelayaran telah dimulai sejak masa penjajahan Belanda, jauh sebelum republik ini lahir.
Pengalaman panjang itulah yang membentuknya sebagai pelaut senior pribumi dengan wawasan maritim yang luas dan visioner.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Mas Pardi melanjutkan pengabdiannya di Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) yang dibentuk oleh Kaigun, Angkatan Laut Jepang. Lembaga ini kelak dikenal sebagai Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Di sinilah peran besarnya sebagai pendidik benar-benar terasa.
Bersama tokoh-tokoh besar seperti Sudomo, Ali Sadikin, R.E. Martadinata, dan Yos Sudarso yang merupakan murid-muridnya Mas Pardi aktif membina dan mendidik pelaut-pelaut muda Indonesia, menanamkan disiplin, nasionalisme, dan jiwa bahari sejati.
Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Mas Pardi tidak tinggal diam. Ia bersama para bahariwan Indonesia turut mengawal pembacaan Teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, bersinergi dengan Barisan Pelopor.
Sebuah bukti bahwa perjuangannya tidak hanya di laut dan ruang kelas, tetapi juga di jantung sejarah kemerdekaan bangsa.
Tak lama setelah kemerdekaan, tepatnya 10 September 1945, Mas Pardi kembali mengonsolidasikan para pelaut Indonesia yang tercerai-berai ke dalam wadah BKR Laut, yang kemudian bertransformasi menjadi TKR Laut. Organisasi inilah cikal bakal kekuatan Angkatan Laut Indonesia yang turut terlibat langsung dalam pertempuran melawan Sekutu dan Belanda, baik di laut maupun di darat, di berbagai wilayah Nusantara.
Setelah struktur TKR Laut tertata, Mas Pardi yang kala itu termasuk generasi sepuh dan seangkatan usia dengan Bung Karno menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Mohammad Nazir.
Namun pengabdiannya tidak berhenti. Ia kembali ke dunia pendidikan pelaut dan bekerja di jawatan pelayaran di Yogyakarta, memastikan bahwa fondasi sumber daya manusia maritim Indonesia tetap kuat.
Pasca pengakuan kedaulatan, ketika Indonesia mulai membangun kembali jati dirinya sebagai bangsa merdeka, Mas Pardi tetap berada di garis depan pemikiran maritim. Seiring berdirinya Institut Angkatan Laut (IAL) pada tahun 1953 kini dikenal sebagai Akademi Angkatan Laut (AAL)
Bung Karno mencanangkan visi besar Indonesia sebagai negara maritim. Visi ini sejalan sepenuhnya dengan jalan hidup Mas Pardi.
Pidato Bung Karno saat peresmian IAL menjadi gema abadi semangat bahari bangsa:
“Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali… bukan sekadar menjadi jongos-jongos di kapal, tetapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati samudra.”
Mas Pardi adalah perwujudan nyata dari cita-cita itu. Ia bukan sekadar pelaut, melainkan pendidik, pejuang, dan perintis yang meletakkan dasar ilmu pelayaran dan kebaharian Indonesia warisan yang terus hidup dalam napas Angkatan Laut dan dunia maritim Nusantara.
Sumber : Hj Agia Sofia
Editor : Redaksi
