CakrawalaMalut.com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan mulai menyerang kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz, menyusul pernyataan Iran yang menutup jalur tersebut bagi pelayaran internasional.
Dilansir dari media outlet global, IRGC pada Senin mengklaim telah menembak sebuah kapal tanker minyak yang dituduh mencoba melakukan transit “secara ilegal” di Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, IRGC menyebut kapal tanker bernama Athena Nova yang disebut sebagai milik sekutu Amerika Serikat menjadi sasaran dua kendaraan udara tak berawak (UAV).
Akibat serangan tersebut, dilaporkan terjadi kebakaran di atas kapal tanker. Hingga kini belum ada laporan resmi terkait jumlah korban maupun tingkat kerusakan kapal.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menampung sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel per hari. Selain itu, jalur ini juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia dan mendorong lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.
Perkembangan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran disebut meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah lokasi regional yang menampung aset militer Amerika Serikat. Situasi ini semakin memperuncing ketegangan geopolitik di kawasan.
Serangan pertama terhadap kapal di Selat Hormuz dilaporkan terjadi pada Ahad pagi. Pusat Keamanan Maritim Oman menyatakan sebuah kapal tanker minyak bernama Skylight, yang berbendera Republik Palau, menjadi sasaran sekitar lima mil laut atau 9,26 kilometer di utara Pelabuhan Khasab.
Dalam pernyataan yang dibagikan melalui platform X, otoritas Oman mengonfirmasi terdapat 20 awak kapal di dalamnya, terdiri dari 15 warga negara India dan 5 warga negara Iran. Seluruh awak berhasil dievakuasi, meski sedikitnya empat orang dilaporkan mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis.
Penutupan Selat Hormuz dan meningkatnya aksi militer di kawasan tersebut menjadi peringatan paling tegas dari Iran terhadap kapal-kapal niaga internasional. Jika situasi terus memburuk, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya sektor energi.
Tim Redaksi
(Dilansir dari media outlet global)

