Foto Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Halmahera Selatan, Fadila Syahril, memimpin kolaborasi gerakan Ramadan berbasis revitalisasi pangan lokal bersama GreenFaith Indonesia, Yayasan Kehati, serta Aliansi NGO Pangan
Halmahera Selatan,
CakrawalaMalut.com– Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Halmahera Selatan, Fadila Syahril, memimpin kolaborasi gerakan Ramadan berbasis revitalisasi pangan lokal bersama GreenFaith Indonesia, Yayasan Kehati, serta Aliansi NGO Pangan. Ini juga melibatkan Guru dan siswa-siswi SD 157 Halmahera Selatan dalam agenda edukatif yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama.
Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye nasional Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal yang bertujuan mengangkat kembali potensi pangan lokal sebagai bagian dari ketahanan pangan, keadilan sosial, serta kepedulian lingkungan.
Fadila Syahril menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga ruang refleksi terhadap pola konsumsi masyarakat.

“Kita ingin Ramadan menjadi titik balik kesadaran kolektif. Selama ini meja berbuka kita terlalu bergantung pada pangan berbasis terigu, gula berlebih, dan produk instan. Padahal Maluku Utara, khususnya Halmahera Selatan, kaya dengan sagu, ubi, pisang, dan hasil kebun lokal lainnya. Revitalisasi pangan lokal adalah bagian dari kedaulatan,” tegas Fadila.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Sekolah SD 157 Halmahera Selatan, Muslim Daeng Abd Rahman, mengapresiasi kegiatan edukatif ini. Ia menilai pendekatan melalui praktik langsung seperti buka puasa bersama berbasis pangan lokal sangat efektif dalam membangun pemahaman siswa.
“Kegiatan ini sangat bagus untuk diterapkan sejak dini. Anak-anak jadi paham bagaimana pentingnya mengonsumsi pangan lokal. Ini juga membangun rasa cinta terhadap pangan lokal sejak kecil,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa-siswi SD 157 diberikan edukasi sederhana mengenai pentingnya mengonsumsi pangan lokal yang sehat, bergizi, serta ramah lingkungan. Menu berbuka yang disajikan pun berbasis bahan lokal seperti barengkes, sagu, dan olahan pisang tradisional.
Menurut Fadila, ketergantungan pada satu komoditas pangan bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada ekonomi petani lokal dan keberlanjutan lingkungan.
“Ketika kita memilih pangan lokal, kita sedang menguatkan petani kita sendiri. Kita menjaga tanah, hutan, dan keberlanjutan sumber daya alam. Ini bukan sekadar soal makanan, tetapi soal keberpihakan,” tambahnya.
Kolaborasi ini juga menjadi bentuk nyata sinergi antara organisasi kepemudaan, lembaga lingkungan, dan masyarakat dalam membangun kesadaran pangan sejak usia dini. Yayasan Kehati dan GreenFaith Indonesia menekankan bahwa diversifikasi pangan sejalan dengan upaya menjaga keanekaragaman hayati serta mengurangi jejak karbon sistem pangan.

IMM Halmahera Selatan berharap gerakan ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial Ramadan semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan di sekolah, masjid, dan komunitas masyarakat.
“Revitalisasi pangan lokal harus menjadi gerakan bersama. Dari dapur rumah tangga, kantin sekolah, hingga kegiatan keagamaan. Kita ingin generasi muda tumbuh dengan kesadaran bahwa pangan lokal adalah identitas, kekuatan, dan masa depan kita,” tutup Fadila Syahril.
Melalui kegiatan ini, IMM Halmahera Selatan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial sebagai bagian dari gerakan intelektual dan kemanusiaan di daerah.// AR
Editor : Redaksi

