Merauke, Cakrawala malut.Com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan akan segera melakukan intervensi pasar menyusul lonjakan harga cabai yang telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), mencapai Rp120.000 per kilogram di Kota Merauke per hari Kamis (5/3/2026).
Kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya stok akibat faktor cuaca, di tengah tingginya permintaan masyarakat selama bulan Ramadan.
Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Papua Selatan, Frederik Hendrik Endeboy, mengonfirmasi bahwa harga cabai mengalami kenaikan signifikan dari sebelumnya Rp100.000 menjadi Rp120.000 per kilogram. Kondisi ini membuat komoditas cabai tidak dapat disertakan dalam program pangan murah yang digelar Pemprov di Taman Mandala Merauke.
“Kami telah mendapatkan pantauan dari Bapanas (Badan Pangan Nasional), dan berdasarkan itu, langkah intervensi pasar akan segera kami lakukan,” ujar Frederik kepada awak media di Merauke.
Menurutnya, program pangan murah Ramadan bertujuan untuk memasarkan bahan pokok dengan harga subsidi. Namun, untuk cabai, pihaknya tidak dapat menyediakan stok karena produksi dan pasokan ke pasar terganggu akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung.
“Di bulan Ramadan ini, kami telah menggelar program pangan murah dengan berbagai bahan pokok subsidi. Sayangnya untuk cabai tidak dapat kami sediakan karena terkendala faktor cuaca yang mempengaruhi pasokan,” tegasnya.
Frederik menambahkan bahwa Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Papua Selatan secara berkala memantau perkembangan ketersediaan dan harga pangan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan kebutuhan masyarakat tercukupi selama bulan suci Ramadan hingga perayaan hari raya nanti.
“Kami akan terus memastikan agar ketersediaan dan harga pangan tetap terkendali, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan selama puasa dan menjelang hari raya,” pungkasnya.
Tim Redaksi

