Ternate, Cakrawala Malut.Com – Gagasan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, untuk menggerakkan sekolah mengelola budidaya hortikultura di lahan seluas 10,5 hektar menuai apresiasi dari Pemerintah Provinsi. Program ini tidak hanya mengajarkan keterampilan bertani, tetapi juga diarahkan untuk membentuk generasi muda yang mandiri dan berjiwa wirausaha berbasis teknologi.
Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Maluku Utara, Kadri Laetje, menyatakan dukungannya terhadap inovasi yang mengintegrasikan pertanian konvensional dengan konsep digital farming. Ia berharap program tersebut tidak hanya diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tetapi segera diperluas ke SMA negeri maupun swasta.
Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai strategis karena tidak sekadar mengajarkan teknik menanam, melainkan menumbuhkan mental kewirausahaan di bidang pertanian bagi generasi muda.
Program pengembangan hortikultura ini juga menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam merespons fluktuasi harga komoditas, khususnya cabai dan bawang merah yang kerap memicu inflasi daerah, terutama menjelang bulan Ramadan. Harga komoditas tersebut bahkan dapat mencapai Rp70.000 per kilogram pada periode tertentu.
Dengan luasan lahan 10,5 hektar, potensi produksi cabai diperkirakan mencapai sekitar 100 ton per musim tanam. Perhitungan tersebut didasarkan pada produktivitas rata-rata 8 hingga 12 ton per hektar melalui penerapan teknologi pertanian modern, penggunaan varietas unggul, serta pengelolaan unsur hara yang optimal.
Dari sisi ekonomi, program ini dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan kisaran harga jual antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram, hasil panen berpotensi memberikan nilai ekonomi yang signifikan sekaligus menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi siswa.
Keberhasilan pelaksanaan program ini didukung melalui sinergi antara Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, serta balai teknis terkait. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, persemaian, penanaman, hingga penanganan pascapanen.
Ke depan, program ini diarahkan untuk membentuk konsep Garden School modern di tingkat SMK dan SMA. Selain mempelajari teknik budidaya, siswa juga diperkenalkan pada sistem digital farming guna meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing hasil pertanian.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, diterapkan strategi penanaman secara bertahap dan panen parsial. Hasil panen nantinya tidak hanya dipasarkan ke pasar tradisional, tetapi juga didistribusikan ke masyarakat sekitar sekolah, kawasan industri dan pertambangan, serta mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah daerah optimistis model ini mampu membangun ekosistem pendidikan yang produktif dan mandiri secara ekonomi, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ketahanan pangan di Maluku Utara.
Tim Redaksi

