Foto Sejarah Mayjen TNI Soemitro Sastrodihardjo dan Presiden Soeharto
Cakrawala Malut.Com – Mayjen TNI Soemitro Sastrodihardjo merupakan salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang memiliki peran penting dalam dinamika politik dan keamanan nasional Indonesia pada awal masa Orde Baru. Ia dikenal luas sebagai jenderal kepercayaan Presiden Soeharto, sekaligus figur sentral dalam kebijakan penegakan ketertiban sosial pada awal 1970-an.
Soemitro bersama Brigjen Yoga Sugama dan Mayjen Soeharto tercatat hadir dalam prosesi pemakaman para Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965. Kehadiran tersebut menandai keterlibatan para petinggi militer dalam fase awal konsolidasi kekuasaan pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Pada tahun 1971 hingga 1974, Soemitro dipercaya menjabat sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) sekaligus Wakil Panglima ABRI. Dalam kapasitas tersebut, ia bertanggung jawab atas stabilitas keamanan nasional, penertiban sosial, serta pengendalian potensi gangguan politik yang dianggap mengancam pemerintahan Orde Baru.
Salah satu kebijakan yang paling dikenang dari masa kepemimpinannya adalah pelaksanaan razia terhadap pemuda berambut gondrong. Kebijakan ini dilandasi pandangan bahwa gaya hidup tersebut dianggap tidak sejalan dengan nilai ketertiban, disiplin, dan stabilitas sosial yang hendak ditegakkan negara saat itu. Razia dilakukan oleh aparat militer sebagai bagian dari pendekatan keamanan yang represif dan sentralistik.
Namun, pada Januari 1974, situasi politik dan sosial nasional memuncak dengan terjadinya Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) di Jakarta. Kerusuhan tersebut dipicu oleh demonstrasi mahasiswa yang berujung pada kekacauan, penjarahan, serta pembakaran fasilitas umum dan asing. Peristiwa Malari menjadi titik balik yang serius dalam karier Soemitro.
Akibat peristiwa tersebut, Soemitro dinilai bertanggung jawab atas kegagalan pengendalian keamanan. Hal ini berujung pada pengunduran dirinya dari jabatan Pangkopkamtib dan Wakil Panglima ABRI pada tahun 1974. Pengunduran diri tersebut menandai berakhirnya peran Soemitro dalam lingkaran inti kekuasaan Orde Baru.
Sejarah mencatat, kiprah Mayjen Soemitro Sastrodihardjo mencerminkan wajah kebijakan keamanan negara pada masa awal Orde Baru, yang menitikberatkan stabilitas nasional melalui pendekatan militeristik, sekaligus menjadi pelajaran penting dalam hubungan antara kekuasaan, keamanan, dan kebebasan sipil.
Sumber : Hj Hagia Sofia
Editor : Redaksi
