Foto Sejarah sosok Kapten (Anumerta) Atang Sutresna
DILI, Cakrawala Malut. Com – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya menanjak di cakrawala Timor Timur, namun aroma mesiu sudah menyengat indra penciuman. Di antara deru helikopter dan riuh rendah instruksi tempur, sosok Kapten (Anumerta) Atang Sutresna berdiri tegak. Ia bukan sekadar perwira; ia adalah nyawa bagi unitnya. Hari ini, sejarah mencatat pengabdian puncaknya dalam salah satu operasi militer paling heroik sekaligus memilukan dalam catatan Korps Baret Merah.
JEJAK SANG HARIMAU LAPANGAN
Atang Sutresna dikenal sebagai prajurit komando yang tak kenal takut. Kariernya di Kopassandha (sekarang Kopassus) ditempa melalui latihan keras dan disiplin baja. Sebelum diterjunkan ke Timor Timur dalam Operasi Seroja tahun 1975, Atang telah lama dikenal sebagai instruktur yang mumpuni dan pemimpin lapangan yang karismatik.
Rekan-rekan seperjuangannya mengenangnya sebagai sosok yang selalu berada di garis depan. “Atang tidak pernah mengatakan ‘serbu’, ia selalu mengatakan ‘ikuti saya’,” ujar salah seorang veteran sejawatnya. Rekam jejaknya mencakup berbagai penugasan intelijen dan tempur yang krusial bagi stabilitas negara saat itu.
DETIK-DETIK DI KOTA DILI
7 Desember 1975 menjadi babak paling berdarah. Sebagai bagian dari pasukan linud (lintas udara), Atang terlibat dalam penerjunan dramatis di atas Dili. Di bawah hujan peluru dari kelompok Fretilin yang telah bersiap di posisi-posisi strategis, Atang dan pasukannya terjun menembus awan.
Kondisi di lapangan sangat kacau. Banyak prajurit gugur sebelum kaki mereka menyentuh tanah. Namun, begitu mendarat, Atang segera mengonsolidasikan pasukannya yang terpencar. Di tengah hujan tembakan senapan otomatis dan mortir, ia memimpin perebutan objek-objek vital di pusat kota.
GUGURNYA SANG PAHLAWAN NEGARA
Petaka datang saat Atang mencoba menetralisir sarang senapan mesin musuh yang menghambat gerak maju pasukannya. Tanpa ragu, ia merayap maju, memberikan perlindungan bagi anak buahnya. Sebuah tembakan mengenai tubuhnya, namun Atang menolak untuk mundur.
Dalam upaya terakhirnya menghancurkan pertahanan lawan, peluru musuh kembali menerjang. Sang kapten gugur dengan senjata masih di tangan, di tanah yang saat itu menjadi palagan pembuktian loyalitas tanpa batas. Kepergiannya meninggalkan lubang besar di hati korps, namun namanya langsung terpatri sebagai legenda.
PENGHORMATAN ABADI
Atas jasa-jasanya, Atang Sutresna dianugerahi kenaikan pangkat anumerta. Namanya kini diabadikan menjadi nama Stadion Atang Sutresna di Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur. Ini bukan sekadar nama bangunan, melainkan pengingat bagi setiap prajurit muda bahwa ada standar keberanian yang pernah dipancangkan oleh seorang Atang.
Ia adalah bukti nyata dari semboyan Tribuana Chandraca Satya Dharma: prajurit yang setia pada janji dan pengabdiannya, bahkan hingga hembusan napas terakhir.
Sumber Referensi:
Buku “Sere Seroja: Pengabdian Prajurit Komando” oleh Dinas Sejarah TNI AD.
Arsip Sejarah Pusat Penerangan TNI.
Memoar Jenderal (Purn) Hendropriyono mengenai Operasi Seroja.
Dokumentasi Museum Satriamandala.
